Bagian dari SUA Creative
Sua

Undangan Pernikahan Adat Digital: Contoh Desain Jawa, Minang, dan Melayu

· 6 menit baca

Undangan Pernikahan Adat Digital: Contoh Desain Jawa, Minang, dan Melayu

Banyak pasangan ingin undangan digital, tapi khawatir hasilnya terlihat terlalu modern dan kehilangan nuansa adat yang dipegang keluarga. Padahal keduanya bisa berjalan bersama. Undangan pernikahan adat digital tetap bisa menampilkan rumah gadang, gunungan, atau tenun songket, lengkap dengan istilah dan sapaan yang biasa dipakai keluarga besar, sambil tetap praktis dikirim lewat WhatsApp. Artikel ini membahas ciri undangan adat Jawa, Minang, dan Melayu, istilah yang lazim dipakai di dalamnya, serta cara memilih desain yang tetap sopan untuk orang tua dan kerabat sepuh.

Kenapa undangan adat tetap penting di era digital

Undangan adalah kesan pertama tamu terhadap pesta pernikahan. Untuk pernikahan adat, undangan juga menjadi penanda bahwa keluarga menghormati tradisi yang dijalankan. Kerabat sepuh biasanya langsung mengenali ornamen daerahnya, dan sapaan dalam bahasa daerah membuat undangan terasa lebih hangat dibanding kalimat formal yang sama untuk semua orang.

Undangan digital justru punya kelebihan yang tidak dimiliki undangan cetak. Ornamen bisa bergerak, musik tradisional bisa mengiringi saat undangan dibuka, dan nama tamu bisa dituliskan satu per satu tanpa mencetak ulang. Kuncinya ada pada pemilihan desain dan penulisan kata-katanya.

Undangan pernikahan adat Jawa

Ciri desainnya

Undangan adat Jawa umumnya memakai warna cokelat sogan, krem, dan emas, dengan motif batik seperti parang, kawung, atau truntum. Ornamen yang sering muncul antara lain gunungan wayang, ronce melati, dan ukiran. Nama mempelai kadang ditulis juga dalam aksara Jawa, dan tanggal acara dilengkapi weton, yaitu hari pasaran Jawa seperti Minggu Pahing atau Sabtu Legi.

Istilah yang biasa dipakai

  • Pawiwahan atau pahargyan pawiwahan untuk pesta pernikahan.
  • Kagem Bapak/Ibu/Sedherek sebagai pengganti "Kepada Yth."
  • Adicara untuk rangkaian acara, misalnya akad, panggih, dan resepsi.
  • Nyuwun pangapunten untuk permohonan maaf bila ada kesalahan penulisan nama dan gelar.
  • Matur sembah nuwun sebagai ucapan terima kasih penutup.

Contoh desainnya di Sua

Desain Gunungan Prada membuka undangan dengan gunungan yang dikibaskan seperti dalang memulai lakon, diiringi gamelan pelog. Nama mempelai ditulis otomatis dalam aksara Jawa dari nama panggilan, dan weton hari pernikahan muncul sendiri dari tanggal acara yang kamu isi. Desain Batik Tulis mengambil pendekatan yang lebih tenang: motif batik digoreskan dengan canting saat undangan dibuka, dengan sapaan "sugeng rawuh" dan penutup "matur nuwun".

Undangan pernikahan adat Minang

Ciri desainnya

Undangan Minang mudah dikenali dari atap gonjong rumah gadang, suntiang (hiasan kepala pengantin perempuan), songket, dan motif pucuak rabuang. Warna yang dominan biasanya merah, emas, dan hitam, meski sekarang banyak juga yang memakai warna lembut seperti krem dan cokelat bata dengan gaya buku tempel.

Istilah yang biasa dipakai

  • Baralek atau alek gadang untuk pesta pernikahan.
  • Alek pertama, alek kaduo untuk urutan acara.
  • Sanak sebagai sapaan hangat untuk tamu dan kerabat.
  • Kami nan babahagia untuk menutup undangan sebelum nama mempelai.
  • Gelar adat seperti Datuak, Sutan, atau Bagindo yang menyertai nama orang tua atau mempelai pria.

Contoh desainnya di Sua

Desain Suntiang Emas menonjolkan suntiang keemasan dan rumah gadang dengan iringan talempong, saluang, dan gandang. Baralek Gadang membingkai foto mempelai dengan bentuk gonjong dan memakai kalimat pembuka "duo kaluarga basatu, sakato jo adat". Kalau ingin suasana yang lebih santai, Padang Scrapbook menyusun undangan seperti buku tempel: rumah gadang yang digambar perlahan, foto polaroid berselotip, amplop bersegel lilin, dan catatan tulisan tangan.

Undangan pernikahan adat Melayu

Ciri desainnya

Undangan Melayu identik dengan tenun songket, warna hijau zamrud atau kuning keemasan, motif awan larat dan pucuk rebung, serta pantun. Nama mempelai kadang ditulis juga dalam huruf Jawi, dan acara biasanya disebut majlis.

Istilah yang biasa dipakai

  • Walimatul 'urs untuk pesta pernikahan.
  • Majlis pertama, majlis kedua untuk urutan acara, misalnya akad nikah dan bersanding.
  • Raja sehari sebagai sebutan untuk kedua mempelai.
  • Kepada yang dihormati sebagai pengganti "Kepada Yth."
  • Pantun pembuka dan penutup, yang menjadi ciri khas sambutan Melayu.

Contoh desainnya di Sua

Desain Zamrud Siak memakai hijau zamrud bertenun songket Siak dan lambang awan larat, dengan iringan zapin dan pantun penutup. Nama mempelai dalam huruf Jawi bisa ditambahkan sendiri di sampul dan bagian mempelai. Desain Tirai Songket membuka undangan dengan tirai songket yang tersibak, lalu menyapa tamu dengan "kepada yang dihormati".

Tips memilih dan mengisi undangan adat digital

  • Tentukan bahasanya lebih dulu. Sapaan dan judul boleh memakai bahasa daerah, tapi informasi penting seperti tanggal, jam, dan alamat sebaiknya tetap dalam bahasa Indonesia supaya tamu dari luar daerah tidak bingung. Di Sua, semua teks bawaan desain bisa diubah di bagian Tampilan pada Builder.
  • Cek ejaan gelar adat. Gelar seperti Datuak, Sutan, Raden, atau Tengku punya aturan penulisan sendiri. Mintalah orang tua atau tetua keluarga memeriksanya sebelum undangan dibagikan.
  • Sesuaikan nama acaranya. Tulis nama acara seperti yang dipakai keluarga, misalnya akad nikah, panggih, baralek, atau bersanding, supaya tamu tahu rangkaian mana yang mereka hadiri.
  • Pakai pantun atau ayat secukupnya. Satu pantun pembuka dan satu pantun penutup sudah cukup. Terlalu banyak teks membuat tamu lelah membaca di layar ponsel.
  • Pilih musik yang sesuai. Gamelan, talempong, atau zapin memberi suasana yang langsung terasa saat undangan dibuka. Beberapa desain adat sudah menyertakan musiknya, dan kamu tetap bisa mengganti dengan lagu pilihan sendiri.
  • Tetap kirim secara personal. Link yang menyebut nama tamu di sampul terasa lebih menghormati, terutama untuk kerabat sepuh. Panduan lengkapnya ada di artikel cara membuat undangan pernikahan digital.
  • Siapkan beberapa undangan cetak. Untuk tetua adat atau kerabat yang tidak memakai ponsel, cetak beberapa lembar saja sebagai pelengkap. Isinya bisa disamakan dengan versi digital.

Pertanyaan yang sering ditanyakan

Apakah undangan digital pantas untuk pernikahan adat?

Pantas, selama desain dan bahasanya sesuai dengan adat yang dijalankan. Yang membuat undangan terasa kurang sopan biasanya bukan bentuk digitalnya, melainkan cara mengirimnya. Kirimlah satu per satu dengan sapaan, bukan disebar ke grup tanpa kata pengantar.

Bolehkah mencampur dua adat dalam satu undangan?

Boleh, dan ini sering terjadi pada pernikahan beda suku. Pilih satu desain sebagai dasar, lalu sesuaikan sapaan dan nama acaranya. Misalnya, desain bernuansa Jawa dengan rangkaian acara yang memakai istilah Minang untuk acara di pihak keluarga lainnya.

Bagaimana kalau tidak hafal istilah adatnya?

Mulailah dari teks bawaan desain yang sudah memakai istilah umum, lalu minta keluarga mengoreksinya. Istilah dan ejaan bisa berbeda antar daerah, jadi masukan dari keluarga lebih penting daripada mengikuti contoh dari internet.

Lihat desain adatnya langsung

Semua desain adat di Sua bisa dicoba gratis, dan setiap teksnya bisa disesuaikan dengan kebiasaan keluargamu. Buka katalog desain untuk melihat pratinjaunya dari ponsel, dan kalau butuh inspirasi kalimat, lihat contoh kata-kata undangan pernikahan yang sudah kami siapkan.